thumbnail

PSB 2014


Penerimaan Siswa Baru tahun pembelajaran 2014/2015 sudah dibuka. Yuk segera. Mumpung masih ada kesempatan. Let's GO!
thumbnail

Romantisme Ukhuwah



“Kita semua, anak Adam, pernah melakukan kesalahan. Dalam dekapan ukhuwah.. Kelembutan nurani memberi kita sekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya. Di keping uang itu, satu sisi bertuliskan, ‘Akuilah kesalahanmu..’  Sisi lain berukir kalimat, ‘Maafkanlah saudaramu yang bersalah..’.”  (Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah)

Masa-masa di kampus adalah grafik tertinggi kokohnya ukhuwah. Setidaknya itu yang penulis rasakan. Dengan banyaknya ikhwah (saudara) sesama pengusung dakwah, betapa ukhuwah itu terjalin dengan indah, kokoh, dan menakjubkan. Dengan simpul organisasi (misal Lembaga Dakwah Kampus/LDK, Badan Eksekutif Mahasiswa/BEM, tarbiyah ) sebagai penyatunya. 

Di kampus itulah pernah tercipta ukhuwah yang luar biasa. Tak jarang meneteskan air mata. Betapa indahnya persaudaraan yang dibalut dengan nilai-nilai islam. Persaudaraan yang tidak didapatkan di luar lingkaran persaudaraan itu.

Masih ingat ketika sesama ikhwah dipersaudarakan (mengambil contoh Rasulullah yang mempersaudarakan para sahabat). Persaudaraan itu dimaksudkan agar keduanya memberikan ‘lebih’ perhatian, dengan tidak mengurangi perhatian kepada saudara yang lain. Ada ‘tugas’ dan ‘hak’ dari persaudaraan itu. Saling mengingatkan untuk berbuat ma’ruf (membangunkan untuk shalat tahajud, shaum sunnah, liqo, keluarkan sedekah, membaca buku, dan sebagainya). Meminta agar datang berkunjung/silaturahim ke kos atau kontrakan, meminta waktu diakhir pekan untuk refreshing menambah keakraban antar keduanya. 

Masih ingat pula, SMS yang datang bertubi-tubi. Tidak hanya saat hari kuliah efektif, tapi juga saat liburan. Isinya tentang tausiyah, sapaan, atau kalimat motivasi lain yang menambah  tebal keimanan diantara mereka, baik yang dikirimi atau yang mengirimi SMS itu.

Seakan berlomba-lomba (dan itu dibenarkan) untuk memotivasi dan mengajak kepada kebaikan. Untaian kalimat indah dan menggugah bahkan hadir saat liburan dan rehat di kampung. Hampir tak pernah dalam sehari dilewatkan tanpa tausiyah dari para saudara. Tausiyah yang semakin banyak dan membludak kala tugas-tugas organisasi dan dakwah sedang giat-giatnya.

Juga masih membayang betapa semangatnya mendatangi dan didatangi para ikhwah ke kontrakan yang walaupun sempit dan panas tapi berubah sejuk seketika dengan kedatangan mereka. Dijamu dengan makan seadanya. Saat makan bersama ada pula yang tidak bisa menyumbang lauknya. Tapi membuat ukhuwah makin terasa. 

Saling berusaha tahu dengan kondisi saudara lain. Tak ada yang menutup diri, kecuali memang pada ranah privasi.

Pergi pagi, pulang malam, itu sudah biasa. Kesibukan yang ada justru dinikmati. Kemana-mana wangi persaudaraan itu tercium. Sebab dimana-mana pula ukhuwah itu ada dan sedang mekar dengan ranumnya. Usia muda-usia hamasah. Semangat sedang menggelora.

Tapi begitu wisuda dan disibukkan dengan urusan pekerjaan-dan rumah tangga, ukhuwah itu perlahan sedikit terganggu. Masih ada. Tapi mungkin sudah berkurang. Benar. Betapa SMS tausiyah itu kembali dirindukan. Tapi kadang yang dirindukan tak jua datang. Atau mungkin karena kita sendiri yang menjadi penyebabnya. Pernah dalam sehari, SMS tidak datang. Tapi kemudian hari tanpa ingatan ukhuwah itu menjadi biasa. Karena kesibukan pekerjaan, atau urusan lain. Seakan-akan semuanya jalan sendiri-sendiri. Realitanya begitu. Tidak bisa dipungkiri.

Solusinya adalah saling mendekat. Mudah-mudahan tidak ada yang berniat dan berminat saling menjauh. Memulai memperbaiki lebih bagus. Banyak media-teknologi yang semakin mendekatkan jarak yang jauh. Manfaatkan sarana itu untuk kembali merekatkan ikatan ukhuwah. Berbaik sangka, bahwa saudara-saudara kita pun merindukan kita. Mudah-mudahan ikatan ukhuwah itu kembali menguat.


thumbnail

Learning Frame Work SMATA

thumbnail

PENSIL Idul Adha Al Qudwah Boarding School



 Dalam rangka memeringati Hari Raya Idul Adha, Al Qudwah Boarding School menggelar pentas seni. Hari libur tidak untuk berleha-leha tapi dimanfaatkan untuk mengasah kreativitas dan bakat para santri. Pondok pesantren yang beralamat di Jl. Maulana Hasanudin Kp. Cempa, Kecamatan Kalanganyar, Lebak, Banten menggelar Pensil (Pekan Seni Idul Adha). Acara diadakan pada Jum’at (3/10) pukul 20.00 WIB di depan asrama putra menampilkan berbagai penampilan seni.
Acara dibuka dengan penampilan muqadimah lima bahasa. Penonton seakan diajak merasakan berada di belahan negara yang berbeda yaitu bahasa Arab oleh Abdirahman, bahasa Jepang oleh Isa Kurniawan, bahasa Inggris oleh Gigin, bahasa Indonesia oleh Bayu Muna, dan bahasa Belanda oleh Nayla. 


Ketua panitia Pensil, Faris Ibrahim mengatakan bahwa acara ini digagas karena imajinasi dan kreativitas santri. “Bukan ajang untuk unjuk diri, tapi sebagai momen untuk mengasah imajinasi. Panitia mengucapkan selamat hari raya Idul Adha, dan selamat menyaksikan” ucapnya.
Penampilan pertama dari Defisav, sebutan untuk kelas 8 putri, , nasyid asmaul husna. Sorak-sorai para penonotn menyemangati para pemain. Enam belas orang cukup membuat panggung penuh. Awalan yang bagus dibuat oleh Defisav.
Kelas Abatasa, nama lain kelas 7 putra, menampilkan hiburan klanting. Musik yang tercipta dari suara benda-benda seadanya misalnya botol, ember, bambu, dan kayu. Dengan sarung melilit dililit di badang, mereka tetap lincah memukul-mukul alat musik itu. Lagu yang dibawakan adalah shalatum bi salamil mubin.
Penonton tidak hanya dari pihak pesantren saja. Turut menyaksikan ajang penampilan bakat dan potensi ini dihadiri oleh para orang tua, kepala SMPT Al Qudwah Iwan Supriana, dan para alumni. Tentu saja hadir pimpinan boarding school ustadz Samson Rahman, MA dan Ustadz A’la Rotbi selaku kepala Yayasan Qudwatul Ummah.
Semua santri turut ambil bagian memeriahkan acara ini. Bagi yang tidak dapat jatah peran, memaksimalkan diri sebagai penonton. Pesantren dengan motto “Unggul dan Religius” ini pun tidak menutup diri dari sikap moderat. Iringan lagu Expresikan Diri dari Bondan Prakoso mengiringi kemunculan kelompok santri berpakaian serba hitam. Mereka menampilkan drama tentang pertarungan kebaikan melawan kejahatan. Kebaikan pada akhirnya menang walaupun secara jumlah mereka kalah.
Penonton makin terhibur dengan penampilan dari Famn Sider, kelas 9 puteri dengan lawakan yang unik. Mereka berhasil menyulap suasana menjadi semakin meriah. Ada TV Tawa yang menampilkan berita aneh dan lucu. “Karena berenang melawan arus, seekor kambing akhirnya tenggelam dalam luka dalam. Seorang polisi terpaksa menembak seekor kambing yang mengamuk di jalanan. Dan akhirnya mereka jadian.” Begitu salah bunyi berita yang lucu dan tek jelas itu. Atau dengan berita sindiran, “Karen frustasi tidak libur pada Idul Adha, seorang guru nekat mendorong siswa dari lantai dasar sebuah gedung dengan alasan sedang praktek gaya gravitasi”.
Visualisasi konflik Palestina pun tergambar di panggung. Melalui drama, digambarkan kondisi Palestina dimana banyak anak-anak yang sedang belajar dan mengaji dibunuh secara keji oleh tentara Israel. Anak-anak dengan senjata seadanya melawan tentara Israel yang bersenjata lengkap. Dengan bantuan Allah dan kekuatan tekad memerangi musuh, akhirnya rakyat Palestina dibantu Hamas berhasil mengalahkan Israel dan mengusir dari tanah Al Aqsa yang diberkahi. Properti yang digunakan pun sangat mengundang decak kagum diantaranya petasan, kembang api, dan senapan mainan.
Silih berganti penampilan menghibur penonton. Lima orang ke panggung mewakili lima karakter profesi yaitu dokter, pahlawan, pemuda, peternak dan tukang jamu. Awalnya mereka membacakann puisi yang syahdu. Memasuki bait-bait selanjutnya, puisi terpenggal satu sama lain dan disela dengan puisi profesi lain. Maka, jadilah puisi itu menjadi lucu.
Kepala yayasan Qudwatul Ummah, A’la Rotbi menyampaikan apresiasi atas penampilan para santri yang luar biasa. “Ada penampilan yang sangat menginspirasi. Yayasan memberikan Rp. 200 ribu kepada kelompok yang terpilih, mudah-mudahan menyemangati kalian” ujarnya. Dan kelompok yang terpilih sebagai penampilan menginspirasi adalah drama tentang Palestina, yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim dan kawan-kawan.
Acara ditutup pada pukul 22.30 WIB dengan do’a oleh ustadz Soghir. Malam itu para penonton dan santri Al Qudwah Boarding School pulang dengan perasaan gembira dan terpuaskan dengan penampilan seni. Mudah-mudahan islam semakin jaya dengan berbagai jalan diantaranya dengan seni dan kreativitas. 

Oleh Supadilah, S.Si
thumbnail

Guru Al Qudwah Ikuti Program IndiLearning



PT Telkom bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republika , Intel dan World Bank menggelar program IndiLearning. Program CSR yang digelar oleh perusahaan telekomunikasi ini dimaksudkan meningkatkan kualitas guru terutama pemahaman implementasi kurikulum 2013 dan pemanfaat sosial media untuk pendidikan.
Acara yang diadakan di gedung A Graha Utama Kemendikbud, Jakarta pada 17-18 September 2014 ini mengundang guru se-Jabodetabek dan sekitarnya. SMAT Al Qudwah berkesempatan mengikutinya. Maka dikirimlah dua orang guru untuk ikut acara ini yaitu Tomy Octavian S.Psi dan Supadilah S.Si.
Mendikbud M.Nuh dijadwalkan membuka acara ini pada pukul 14.00 WIB. Materi pertama adalah Sosialisasi Kurikulum 2013 : Perubahan Mindset Guru-guru oleh Tjipto Sumadi dari Unit Implementasi Kurikulum. “Pada kurikulum 2013 banyak perubahan yang sangat bagus bagi pendidikan di Indonesia. Siswa tidak lagi membawa buku banyak-banyak yang memberatkannya. Kurikulum 2013 lebih pluralis” katanya.
Tcipto mencontohkan, di buku tingkat SD mulai banyak ditemui tokoh dan karakter yang lebih merata. Diantaranya adalah penggunaan tokoh Edo, Lina, Udin, Siti, dan Ujang. Ini lebih ‘adil’ ketimbang buku-buku yang ada sebelumnya.
Juga ada materi dari PT Telkom dan Intel yang memaparkan pentingnya penguasaan teknologi bagi pendidikan Indonesia.
Satu hal yang dikeluhkan oleh para guru adalah keterlambatan pendistribusian buku K 13. Namun sudah ditegaskan oleh pihak Kemendikbud bahwa pendistribusian sudah dilakukan, tapi masih berjalan. “Memang sebuah tantangan untuk kepala sekolah atau guru tentang buku ini. Jelas penerbit-penerbit tidak tinggal diam. Sebab buku Kemendiknas ini biayanya murah. Sekitar Rp. 9.000. Kepala sekolah atau guru terancam tidak dapat fee atau bonus jalan-jalan keluar negeri seperti yang diberikan penerbit-penerbit yang menjual buku ke sekolah” tegasnya.
Dan akhirnya yang ditunggu para peserta datang juga. Mendikbud M.Nuh hadir pada pukul 14.00 WIB. M.Nuh membuka acara IndieLearning ini dihadapan 140 orang peserta. “Saya yakin masa depan Indonesia akan cerah seperti wajah guru-gurunya” ujarnya. M Nuh menyadari bahwa penerapan K 13 menuai banyak protes dari berbagai pihak. M Nuh menegaskan tidak ada dikotomi antara guru dengan kurikulum. Kurikulum ibarat senjata, begitu penting untuk sebuah peperangan.
Tidak boleh berhenti melakukan perbaikan. Pendidikan ibarat senjata untuk menumpas tiga penyakit yang selama ini melanda negeri ini, yaitu kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan. Mantan rektor ITS Surabaya ini yakin para guru bisa memotong rantai itu dengan menjadi guru dengan tugasnya mendidik siswa.
Materi terakhir di hari pertama adalah public speaking yang diisi oleh artis sekaligus model Ratih Sanggarwaty. Pembawaan materi yang lugas dan luwes membuat suasana cair dan menyenangkan. Ratih membagikan kepada peserta tips dalam public speaking. “Jangan salah kostum. Tidak dianjurkan minum susu maksimal dua jam sebelum PS. Susu merangsang produksi air ludah berlebihan. Atau makanan gorengan yang bisa membuat suara serak karena mengandung minyak” katanya.
Selain itu, ada pelatihan penggunaan aplikasi penunjang pembelajaran melalui pembuatan komik. Guru pun diajak langsung membuat komik pada acara tersebut. Dengan menggunakan aplikasi itu, guru yang tidak mahir menggambar pun bisa membuat komik pelajaran.
Selama dua hari, guru Al Qudwah mengikuti dengan penuh acara ini. Keduanya akan membagikan ilmu yang didapat ini pada rapat sekolah yang diadakan pada 20 September 2014. Diharapkan agar ilmu dari pelatihan itu dapat diakses oleh guru lain.
supadilah
thumbnail

Guru Al Qudwah Cetak 28 Gol


Latihan futsal keluarga besar Al Qudwah berlangsung seru dan meriah. Sebanyak 28 gol tercipta pada agenda riyadhah (olahraga) ini. Acara yang diadakan di futsal 35, Cempa ini dibuat untuk mewadahi pimpinan, guru, dan karyawan Al Qudwah untuk berolahraga sekaligus memupuk silaturahim.

Acara diadakan di hari Ahad, 14 September 2014, sebanyak 12 orang hadir, diantaranya Ustadz A’la Rotbi (kepala yayasan), Apriyadi (kepala SMA/guru PAI), Ikhwan Martin (wakasek/guru Bahasa Inggris), Kusnaedi (guru tahfidz), Yayat (guru Tahfidz), Arip (guru fisika), Sabar (guru Sejarah), Andi (Paskibra dan Pramuka), Padil (guru fisika), Imran (guru Bahasa Arab), Ilham (guru Kebersihan), dan Topan (kepala TU).
Lapangan disewa untuk durasi 1 jam. Pembagian diadakan dengan cara suit. Diawal, permainan berjalan seimbang. Jual beli serangan terjadi. Pertandingan diwarnai dengan kejar mengejar gol. Memasuki 10 menit pertama, pertandingan berjalan seimbang tetapi skor mencolok terjadi. Pada belasan menit kemudian, skor mencapai 10-6.
Jalannya permainan diwarnai dengan gelak tawa karena kelucuan-kelucuan diantaranya terjatuh, salah tendang, wajah terkena bola, gol mudah, serta kelucuan-kelucuan lain. Tentu saja ada tipuan-tipuan serta aksi-aksi memukau yang bikin geleng-geleng kepala melihatnya.

 
Akan tetapi, faktor usia juga menentukan dalam pertandingan ini. Perlahan tapi pasti, tim yang dihuni oleh Pak Imran, Pak Padil, Pak Ilham, Pak Topan, dan Pak Kusnadi mengejar ketertinggalannya. Tim yang berisikan Pak Sabar, Pak Andi, Pak Arip, Pak Martin, ustadz Obi, dan Pak Apri tidak membiarkan dilewati. Hingga pertandingan terpaksa selesai sebelum waktu habis skor akhir adalah 14-14. Skor yang imbang. Pertanda kedua tim bermain agresif. Produktivitas gol cukup besar.

Masih tersisa 17 menit lagi. Tapi faktor ‘ketuaan’ memaksa pertandingan disudahi sebelum waktunya. Tapi pertandingan itu sudah cukup membuat keringat membanjir dan nafas ngos-ngosan. Cukup menyehatkan bagi para guru dan karyawan agar memiliki fisik yang sehat.

Rencananya agenda seperti ini akan diadakan rutin sebulan sekali. Usai futsal, peserta latihan dijamu untuk ngaliwet bersama ustadz Obi. Tenaga terkuras dan rasa lapar membuat menu yang disajikan saat itu (ikan gurame, ikan asin, lalap, sambel, dan kudapan) terasa begitu nikmat.

thumbnail

Inspirasi dari (bukan sekedar) OB

Pagi ini ada kejadian luar biasa di sekolah kita. Usai olahraga di Jumat pagi, Kepsek kita, Pak Apri memberikan wejangan. Sekali ini, bukan wejangan Pak Apri yang memberi kesan, tapi kejadian lain. Pak Apri memanggil A’ Ilham. Orang yang terdepan menjaga kebersihan dan kerapian serta keindahan sekolah. 

Dihadapan semua siswa dan guru yang hadir memenuhi lapangan itu, A’ Ilham diberi kesempatan menyampaikan unek-unek yang disimpan dan dirasakannya selama ini. Boleh pujian atau pun kritikan.

Usai bertahmid dan mengucap salam, A’ Ilham bilang, “Ada juga sih kesel sama kalian. Saya Cuma mau bilang mari sama-sama menjaga kebersihan kelas kita. Sampah kita urus bersama” begitu ujarnya.

Tidak banyak yang disampaikannya. Tapi dia pede menyampaikannya. Lancar, dan pelan. Tapi nancep dihati. Apanya yang nancep? Pertama, keluarbiasaan Pak Apri dalam memberikan kesempatan kepada anggota keluarga sekolah-petugas kebersihan. Seumur-umur, baru kali ini saya melihat dan menyaksikan, ada seorang petugas kebersihan diberikan kesempatan hadir dan berbicara di hadapan umum. Dalam acara resmi dan dihadiri civitas akademika. Bener. Sejak SD, SMP, dan SMA bahkan di sekolah saya yang dulu (dengan tidak merendahkan atau menganggap negatif sekolah-sekolah itu yang memiliki kelebihan masing-masing). Benar, baru kali ini.

Kedua, pede-nya A’ Ilham dalam berbicara di hadapan umum. Di depan para insan intelektual yang tidak diragukan ilmu dan pengetahuannya. Begitu lancar dan lugas dalam menyampaikan. Tidak ada rendah diri. 

Tapi kemudian saya ingat, A’ Ilham ikut liqo. Hm, begitulah ketika tarbiyah sudah mewarnai. Menjadikan pribadi-pribadi semakin luar biasa. Salut buat keluarga baru-ku disini.
Curhat admin by Supadilah