1 / 3
SMATA
2 / 3
SMATA
3 / 3
SMATA

thumbnail

Fenomena ‘Om Telolet Om’ dan Kebahagiaan Orang Indonesia

‘Om Telotet Om’ menjadi sebuah fenomena. Tersebar secara viral di berbagai sosial media. Menjadi berita di televisi dan berbagai surat kabar. ‘Om Telotet Om’ bermula dari video sekelompok bocah di Jepara, Jawa Tengah, yang menanti klakson beritme khas dari bus yang lewat. Saat bus lewat, mereka kompak berdiri di pinggir jalan dan meminta sopir bus untuk membunyikan klakson bersuara khas. Mereka berteriak kepada sopir, ‘Om Telotet Om’, ada juga yang berteriak, ‘Pak Telolet Pak’. Lalu ada pula yang menuliskan ‘Om Telotet Om’di kertas karton dan membentangkannya agar bisa dibaca sopir yang kemudian dibalas dengan klakson berbunyi telolet.



Klakson yang berbunyi khas ‘telolet’ ini sebenarnya sudah lama ada. Sekira tahun 2005 lalu. Namun kali ini menjadi sebuah fenomena lantaran keberadaan sosial media yang memviralkannya. Zaman sekarang ini apa-apa serba diviralkan. Tidak butuh biaya mahal untuk menjadikan sebuah berita menjadi terkenal. Indonesia sebagai pengguna internet terbesar nomor enam dunia (www.kominfo.go.id) atau peringkat empat di Asia, menjadi salah satu sebabnya sebuah berita dengan cepat menyebar. Atau, bisa juga karena karakter kita yang dengan mudah menyebarkan berita. Sebuah postingan dengan cepat menyebar melalui akun pribadi, kelompok (grup) dan laman berita (website).
Kedahsyatan sosial media menjadikan ‘Om Telotet Om’ sebagai trending topic  dan terkenal seantero dunia. Ditambah, dibuat lagi oleh beberapa musisi dunia diantaranya DJ Firebeatz (Belanda), Dillon Francis (Amerika) atau Marsmello (Amerika). Atau beberapa akun publik figur, sebagai contoh Cristiano Ronaldo, yang juga tidak ketinggalan meramaikan ‘Om Telotet Om’.
Fenomena ‘Om Telolet Om’bisa dikatakan sebuah kreativitas yang unik dan hebat. Membuat Indonesia terkenal hingga dunia. Sebentar itu, Indonesia berhasil menjadi pioner dalam kampanye digital dengan tagar khas. Fenomena unik ini bisa dikatakan sebagai satire (sindiran) oleh publik Indonesia yang jenuh dengan krisis yang dialami negeri ini. Ditengah kisruh perpolitikan Indonesia yang tidak kunjung henti, penegakan hukum yang pandang bulu, semakin mahalnya biaya hidup, dan kekecewaan terhadap pemerintah membuat fenomena ‘Om Telolet Om’sebagai bahan bahan untuk melupakan sejenak segala permasalahan itu. Rakyat butuh hiburan. Butuh kebahagiaan. Dan, kebahagiaan itu didapat dengan cara yang sederhana. Maka benarlah ungkapan, bahagia itu sederhana.  Cukup dengan menantikan suara klakson.
Namun jangan pula menyandingkan fenomena ini dengan akidah. Belakangan muncul postingan tentang tafsir ‘Om Telolet Om. ‘Om’ adalah istilah dalam agama Hindu dan ‘telolet’ adalah suara khas terompet, salah satu alat ibadah Yahudi. ‘Om Telolet Om’adalah bentuk pengagungan terhadap tuhan Yahudi. Begitu bunyi postingan itu.  Postingan itu seakan menghakimi ‘om telolet om’sebagai pendangkalan akidah. Menimbulkan perdebatan yang bisa mengakibatkan perpecahan dan permusuhan, bahkan antar sesama umat muslim. Antara yang setuju dan tidak setuju.
Padahal jika menilik sejarah awal kemunculannya, maka tidak bijak menyamakan fenomena ‘Om Telolet Om’ dengan pendangkalan akidah. Tiba-tiba saja umat islam yang sedang bersemangat dalam beragamanya menyebarkan postingan ini tanpa melakukan pengecekan kebenarannya terlebih dahulu. Apalagi ketika postingan ini muncul dari seorang tokoh islam yang menjadi panutan umat islam, Bachtiar Nasir, yang padahal kita tidak tahu sejak kapan akun tersebutaktif, atau siapa pengelolanya. Namun apa dikata, postingan itu terlanjur menyebar viral. Seakan melabeli sekelompok anak muda itu sebagai orang yang tersesat dengan aktivitasnya. Dan, ketika ada klarifikasi tentang hal ini, kita juga yang rugi. Dengan mudah kalangan non-muslim mengecap aktivis islam sebagai pihak yang dengan mudah memposting berita palsu.
Maka hendaknya kita hati-hati dalam menyebarkan (sharing) sebuah berita yang belum tentu kebenarannya. Apalagi jika itu menyangkut ranah agama yang dirasa sensitif. Jangan sampai kita menjadi orang yang menyebarkan berita palsu (hoax). “Hai orang-orang uang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (Al Hujarat : 6). Cukuplah kita berhati-hati dengan peringatan yang disampaikan hadist nabi, “Rasulullah bersabda : Cukuplah orang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menyebar semua yang ia dengar (HR. Muslim).

Tidak Harus Diramaikan
Kegiatan berburu klakson ‘telolet’ memunculkan kreativitas anak muda agar menjauhkan mereka dari kesibukan yang negatif, namun jangan dilupakan bahaya yang bisa muncul. Anak-anak yang berderet di pinggir jalan menunggu bus yang melaju kencang bukannya tanpa bahaya. Di jalan raya semua kemungkinan bisa terjadi. Jangan abaikan keselamatan anak-anak itu. Apalagi mereka beraktivitas tanpa pengamanan. Tanpa didampingi oleh orang tua. Mengoperasikan telepon genggam saat bus melintas atau bahkan mengadang laju bus yang bisa mengancam keselamatan mereka. Selain itu, bisa menghambat arus lalu lintas dan pergerakan bus. Maka, hendaknya fenomena ini dihentikan saja. Semoga tidak berlarut-larut. Saya berharap ini hanya hiburan sesaat yang segera hilang. Seperti demam akik yang kini gaungnya terdengar senyap. Orang tua hendaknya memantau kemana anaknya pergi. Melarang anak-anak kecil melakukan aktivitas berbahaya ini.
Selain itu, aktivitas yang hanya menunggu klakson bus itu juga bisa merupakan kegiatan yang sia-sia dan buang waktu. Tanpa manfaat apapun kecuali hanya untuk kesenangan belaka. Sifatnya hiburan. Namanya hiburan, jangan berlarut-larut. Dalam kadar sewajarnya saja. Hanya pengen eksis. Tidak ada aktiviatas produktif. Lebih baik waktu senggang digunakan untuk melakukan kegiatan positif seperti kegiatan sosial, bersilaturahim, atau menggalang dana, dimana-mana sedang terjadi bencana alam atau bencana kemanusiaan. Atau menemukan alat-alat yang dapat berguna bagi aktivitas kita. Agar kita tidak selalu menjadi pengguna (konsumen) tetapi beralih menjadi pencipta (produsen).
Supadilah. Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan di SMA Terpadu Al Qudwah, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten.
thumbnail

Kelas XI SMA Terpadu Al Qudwah Laksanakan Program BSUD



Merasakan pengalaman langsung bersama masyarakat, dan menemui berbagai tantangan serta kemudahan menjadi sebuah pengalaman yang berkesan bagi siswa. Ini sangat penting sebagai bekal mereka ketika benar-benar terjun ke masyarakat kelak. Inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Bakti Siswa Untuk Desa (BSUD) yang digulirkan SMA Terpadu Al Qudwah. Di tahun 2016, BSUD dilaksanakan pada 4-18 Desember 2016. Peserta BSUD adalah kelas XI yang terdiri dari 38 siswa. Mereka dibagi dalam 4 kelompok BSUD dengan empat lokasi penempatan yaitu di kecamatan Maja, Lebakgedong, Bojongmanik, dan Malingping.
  Peserta BSUD siap berangkat menuju lokasi BSUD
 Selamat berjuang, siswa SMA Terpadu Al-Qudwah

Keberangkatan program BSUD dilepas oleh Ustadz Samson Rahman sebagai Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Qudwatul Ummah pada Ahad, 4 Desember 2016. Dalam sambutannya, Ustadz Samson Rahman menegaskan bahwa Al Qudwah adalah sekolah yang memiliki karakter dakwah, tarbiyah, khidmah, dan akhlak. “Dimana pun kalian berada hendaknya menjiwai 4 karakter ini. Siswa Al Qudwah harus menginternalisasi karakter ini. Jauh dari orang tua dan segala kemudahan di rumah, adalah sebuah tantangan yang mesti kalian hadapi” pesannya.
Siswa Al Qudwah harus menjadi sosok yang tangguh menghadapi tantangan. Siswa putri tidak boleh cengeng. Harus menjadi santri yang anggun dan berdaya kuat.
Ustadz Samson juga menegaskan bahwa program BSUD ini bukan sebagai ajang jalan-jalan. “Aktivitas kalian disana adalah belajar. Menerapkan berbagai ilmu yang didapat di sekolah. Kalian akan menemukan pengalaman yang sangat bernilai” tegasnya.
Pelaksanaan program BUSD diharapkan memberikan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi siswa. Beberapa program yang dilakukan diantaranya bakti sosial, sunat massal, mengajar di sekolah atau madrasah, mengajar ngaji, pemberdayaan masyarakat, dan kegiatan sosial lainnya.
Dengan bimbingan pembina BSUD, diharapkan program yang direncanakan dapat diselesaikan dengan baik dan optimal. Semua permasalahan dan tantangan yang akan dihadapi harus diselesaikan dengan penuh kedewasaan. Itu yang akan memberikan pengalaman yang luar biasa untuk siswa.
thumbnail

Yusril Ramadhan, Presentasi Terbaik Olimpiade Sosiologi Tingkat Nasional 2016



Siswa SMA Terpadu Al Qudwah berhasil mengukir prestasi pada kancah kompetisi nasional. Kali ini dalam ajang Olimpiade Sosiologi tingkat Nasional yang diadakan pada 23-25 November 2016 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Kompetisi ini diawali dengan seleksi esay yang diadakan satu bulan sebelum acara. Dari sejumlah esai yang masuk, diambil 120 esai terbaik. Kemudian terpilih dalam beberapa kategori juara. SMA Terpadu Al Qudwah diwakili oleh Yusril Ramadhan berhasil menjadi Peserta Presentasi Terbaik Olimpiade Sosiologi Nasional 2016. 
“Perasaannya pasti senang dan bangga. Saya bisa memberikan kontribusi prestasi di detik-detik terakhir saya di SMA Terpadu Al Qudwah.  Terlebih bisa mengharumkan nama daerah sendiri, Lebak khususnya karna hanya saya perwakilannya” demikian ujarnya usai penerimaan penghargaan dalam kategori tersebut.


Esai Yusril, siswa kelas XII SMA Terpadu Al Qudwah mengangkat kearifan lokal suku baduy yang berjudul " Akulturasi Teknik Furoshiki Jepang sebagai Inspirasi Modifikasi Budaya Gandongan "Suku Baduy. Yusril mengaku melalui proses persiapan yang cukup panjang juga. “Selain setiap harinya harus mengisi soal latihan di tambah penyelesaian hasil essay juga menjadi bagain dari perlombaan tersebut, mengharuskan saya melakukan observasi secara langsung mengunjungi masyarakat suku baduy” terangnya. 
Selain itu, sebetulnya SMA Terpadu Al Qudwah juga mengirimkan beberapa siswanya untuk ikut serta dalam lomba esai dan LCC Sosiologi. Hanya, belum beruntung. SMA Terpadu Al Qudwah berhasil memunculkan satu juara. Selamat. Semoga prestasi Yusril Ramadhan menjadikan hal yang bermanfaat untuk di kehidupannya kelak. Aamiin.
thumbnail

Kemeriahan Peringatan Hari Guru di SMA Terpadu Al-Qudwah



Momen 25 November sebagai peringatan Hari Guru Nasional tidak mau dilewatkan oleh civitas Akademika SMA Terpadu Al-Qudwah. Maka acara pun disiapkan. Pelaksana utamanya adalah siswa. Digalangi oleh OSIS SMA Terpadu Al-Qudwah, siswa SMA Terpadu Al-Qudwah melakukan berbagai persiapan. Rupanya ada kejutan yang mereka siapkan. Sore kamis itu, tidak boleh ada satu pun guru yang masih berada di sekolah. Bahkan malamnya ketika ada guru yang mau masuk kantor tidak dikasih lewat oleh mereka. Rupanya, kantor sudah didesain sedemikian rupa oleh mereka.




 Paginya, Jumat, 25 November 2016, kedatangan guru disambut oleh siswa. Kebalikan seperti biasa, guru yang menyambut siswa. Dan lagi, guru tidak dibolehkan masuk kantor. Segala tas dan barang bawaan dimasukkan oleh siswa. Ada-ada saja. 


Guru duduk di ruangan beranda sekolah. Lengkap kursi dan meja dengan pisang goreng serta teh hangat. Benar-benar guru dimanjakan. Hidangan ini pas benar dengan cuaca pagi yang dingin. Setengah jam kemudian guru baru dibolehkan masuk. Dan...wah...guru benar-benar dibuat geleng-geleng. Ruang kantor dihias sedemikian rupa dan menjadi warna-warni dengan balon, kertas pesan, pita, dan foto guru.
 
Penampakan kantor yang sudah disulap oleh siswa
Acara berikutnya dilanjutkan dengan Ranking 1. Pesertanya guru, pertanyaan disiapkan siswa. Ada 16 guru yang ikut serta dalam ajang ini. Pertanyaan tentang pengetahuan umum dan pengetahuan tentang sekolah. Misalnya, anak yang berasal dari daerah paling jauh, kakak beradik yang di SMA Terpadu Al-Qudwah, dan sejenisnya.
Pertanyaan demi pertanyaan bergulir. Guru yang menjawab salah diminta menyingkir dari arena lomba. Seleksi pun berjalan. Akhirnya, guru yang terakhir berada di arena adalah Arni Yulianti, guru Fisika. Maka beliau pun terpilih sebagai pemenang di Ranking 1.
Satu lagi kejutan untuk guru. Siswa memberikan kue untuk para guru yang saat itu sedang rehat di kantor. Siswa pun meminta guru untuk memotong kue itu. Pemotongan pertama dilakukan oleh kepala SMA Terpadu Al-Qudwah, Iwan Supriana, dan kemudian dinikmati bersama-sama.
Tidak lupa ada kenang-kenangan dari siswa berupa pemberian kado. Bermacam-macam dan unik pula kado dari mereka. Ada cermin (biar guru banyak berkaca), jam weker motif bet pingpong (untuk guru yang suka pingpong), tongsis (untuk guru yang suka selfie), tempat pensil (untuk guru yang tempat pensilnya pecah), peci (untuk guru Bahasa Arab), buku Baiti Jannati (biar cepat nikah...hehe) dan sendok (biar banyak makan...).
Salah satu kado dari siswa

Semua yang diberikan siswa tentunya membuat bangga guru. Lewat itu pula cinta mereka tergambar. Berharap cinta itu tetap selalu ada. Bahkan ketika tak lagi tanggal 25 November. Love...love...love.
thumbnail

Di Kelas Pagi SMATA, Bunda Iroh : Pelajar Harus Sering Meneliti



Tamu Kelas Inspirasi SMA Terpadu Al Qudwah pagi ini bertabur inspirasi. Sekolah yang terletak di kawasan kecamatan Kalanganyar ini didatangi widyaswara dari LPMP Provinsi Banten. Adalah Bunda Iroh Siti Zahroh, yang menjadi tamu pada pagi ini, Senin (21/11). Sejak awal beliau sudah menyentak dengan mengatakan prinsip yang beliau pegang selama ini. Bermanfaat. “Buat apa hidup kalau tidak bermanfaat? Putar haluan kalau tidak bermanfaat” begitu katanya. 
Bunda Iroh sedang berbagi inspirasi kepada siswa SMA Terpadu Al Qudwah

 Bunda Iroh adalah seorang widyaswara, melatih atau mengajar guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. sosok asli kelahirang Rangkasbitung 50 tahun lalu menegaskan betapa kita harus tetap mencintai Indonesia walau bagaimana pun kondisi negeri kita. “Apapun yg terjadi..tetap cintai Indonesia” ujarnya.
Benar. Miris kita melihat kondisi negeri ini. Walaupun negara berlimpah sumber daya alam, ironinya kita banyak mengimpor. “Kita mengimpor 2 juta ton beras. 70 persen susu kita impor. 90 persen bawang putih 60 kedelai” ungkapnya dengan membaca sebuah data dari catatan di buku kecil yang dibawanya.
Jika kita mau meneliti benar keadaan daerah kita, ternyata banyak sekali hal yang mesti diperbaiki. Namun, kepedulian pemerintah terhadap penelitian masih minim.
Sosok yang sudah 11 tahun menjadi juri dalam ajang LKIR tingkat SMP ini mengajak pelajar Indonesia agar aktif melakukan penelitian. “Hal-hal yang sering terjadi di daerah kita saja. Misalnya keberlangsungan program magrib mengaji. Kalau maghrib kenapa masih ada saja yang main skateboard atau aktivitas lain di alun-alun. Kenapa itu bisa terjadi??
Selain itu, Bunda Iroh juga menganjurkan agar aktif berorganisasi. “Manusia modern adalah orang yang mau berorganisasi. Organisasi menjadi langkah penting kita untuk membuka wawasan”.
Disela-sela beliau bertutur, terluncurlah tips bagaimana menyukseskan gerakan literasi. Sebagaimana beliau cukup terkenal di bidang ini. Sebab menulis bukanlah hal yang mudah. Terutama menulis hal yang baik. “Kalau sekedar share berita negatif, yang kita copas tanpa kita teliti dulu, mungkin mudah”.
Pertama, pembiasaan. 15 menit sebelum belajar lakukan membaca buku. Buku apa saja. Kedua, adakan pojok buku. Ketiga, biasakan tulis apa yang kta baca. Jika secara konsisten ini dilakukan dalam hidup kita, niscaya kita akan dapati diri kita sebagai pribadi yang berwawasan luas.
Bunda Iroh juga menekankan betapa hebatnya pengaruh sebuah buku. “Hal yang membuat kita berubah adalah lingkungan, orang-orang yang disekeliling kita, dan BUKU. Yah, buku...” ujarnya.

Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Selain beliau berbagi inspirasi, beliau juga berbagi hadiah kepada siswa SMA Terpadu Al Qudwah. Bagi yang berani bertanya, diberi hadiah. Luar biasa. Pemateri tapi malah ngasih hadiah yang banyak. 
Salah seorang siswi SMA Terpadu Al Qudwah mengajukan pertanyaan
Diakhir kelas inspirasi, mendadak salah seorang siswa membacakan puisi yang secara spontan dibuat khusus untuk Bunda Iroh, berkaca dari perjalanan hidup beliau. Secara spontan juga, dibalas Bunda Iroh dengan puisi yang dibuatnya sewaktu kelas 1 SMA dulu. Sedikit penggalan puisi itu,
Biarkan hatimu tetap biru/ Kelak ketika Bunda rindu/Bunda tinggal memandang lautan di sana. Biarkan jiwamu tetap jingga/ Kelak ketika Bunda ingin melihatmu/Bunda akan memandang kaki langit di atas sana”
Terima kasih Bunda, atas inspirasi yang hebat di pagi ini. Semoga kelak bisa kembali bertemu. Dan kembali gelas kosong kami terisi penuh dengan inspirasi dari Bunda.
 
Siswa terlihat serius mendengarkan penyampaian materi
Foto bersama usai acara 
Kepala SMA Terpadu Al Qudwah menyerahkan kenang-kenangan untuk pemateri